ngocol; sebagai gaya salesman….

21 11 2009

…gara-gara aku jualan sambil tak guyoni terus, bahkan aku dikatakan lebih lucu dari kirun (pelawak asli madiun-sering di acara lawakan TV2 swasta) akhirnya gak jadi beli….

Ngocol atau mungkin melawak kalau orang kebanyakan menyebutnya, mungkin jadi adalah gaya kita sehari-hari. Dari kisah diatas mungkin akan sedikit menginspirasi kita tentang “ngocol” dalam profesi salesman.

Melawak lebih tepatnya “joke” sebenarnya adalah salah satu cara untuk membuat suasana lebih hidup dan mengena dalam sebuah presentasi kita. Terkadang suasana akan mencair dengan “joke” segar yang kita lontarkan. Tak jarang juga orang salah persepsi terhadap “joke” kita dan ujungnnya presentasi tidak bisa berhasil.

Memahami calon customer, membuat kita enjoy untuk mengeluarkan joke tanpa menyentuh emosi pelanggan. Setiap calon customer adalah unik, jadi pembicaraan awal menentukan joke kita apa…sedikit politik, budaya, cerita daerah dsb, tentunya memang berdasar pemahaman kita masing-masing.

Joke yang berlebih, bahkan melebihi gaya pelawak akan mengaburkan pencitraan kita tentang produk yang kita jual, bahkan terkadang akan mengurangi rasa tertariknya pada produk. Tidak sedikit yang kemudian kita akan balik di prospek dengan produk lain.

Sedikit inspirasi dari blog tetangga :

-DreaOfMoon-:

Slamet dan Untung

Ketika menemui Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral AS, Gubernur BI Sjahril Sabirin bertanya kenapa perekonomian Amerika bisa begitu kuat dibandingkan dengan Indonesia?

“Di Amerika ini kami punya Johny Cash (penyanyi ternama Las Vegas), Bob Hope (komedian terkenal), dan Stevie Wonder (penyanyi kulit hitam yang sangat hebat),” jawab Greenspan dengan mimik serius. “Tapi, Sjahrir, di Indonesia kalian tidak punya Cash (uang tunai), tak punya Hope (harapan), dan tidak memiliki Wonder (keajaiban)!”

Mendengar jawaban itu, Sjahrir hanya manggut-manggut. Sekembalinya ke Indonesia, ia menghadap Presiden Abdurrahman Wahid. “Bapak Presiden, ketika di Amerika Serikat saya sempat bertemu dengan Greenspan,” ungkap Sjahrir.

“Banyak hal yang saya tanyakan kepadanya. Termasuk soal kenapa perekonomian bangsa kita tidak sekokoh Amerika. Ternyata menurut Greenspan, kuncinya cuma pada Cash, Hope, dan Wonder, yang tidak kita miliki.”

Gus Dur hanya menanggapi dengan enteng. “Ah, gitu aja kok repot, wong kita masih punya banyak Slamet dan Untung kok.”


Aksi

Information

3 responses

21 12 2009
Heri Cahyono

he he betul betul betul…..(pinjem logat Upin n Ipin)
Kalu slamet tentu tidak celaka n kalau ud untung tetu tidak rugi….

salam hebat kembali

28 01 2010
26 11 2010
dendy

hahahahaha…lucu..lucu…
saya tadinya lagi serius seharian , pas baca…ketemu ini, jadi senyum2 deh.
bagus2 lucu..salam sukses ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: