HELP! I Hate My Boss!!!

4 07 2008

Oleh: Hingdranata Nikolay

Apakah Anda membenci boss Anda? Apakah anda tidak sabar lagi untuk melihat dan merasakan saat dimana mereka pergi dari perusahaan (atau kalau mau blak-blakan, mati)?

Apapun perasaan kita, saat kita memilih untuk menetap dengan semua kelebihan (itupun kalau menurut persepsi kita ada) atau kekurangan perusahaan yang ada, maka satu-satunya jalan untuk bisa bertahan adalah belajar dan meningkatkan kemampuan untuk merespon dengan efektif. Perhatikan bahwa keputusan memilih ada di tangan kita!

Sebuah hasil riset mengatakan bahwa 80% karyawan meninggalkan perusahaan karena ketidakcocokan mereka dengan bosnya. Apakah Anda termasuk daftar antri untuk pergi atau diminta pergi dari perusahaan?

Sebenarnya keadaan tidak bisa lebih buruk dari apa yang Anda sudah lihat, alami, dan rasakan, apabila Anda memang mulai belajar untuk memikirkan kembali situasinya. Apabila Anda sudah berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang terjadi dan bagaimana Anda akan merespon terhadap yang Anda alami ini, maka sebenarnya segala sesuatunya bisa segera berubah menjadi lebih baik.

Coba ikuti tip berikut dari I2.

Pertama, perasaan Anda terhadap bos Anda tidak sama dengan perasaan Anda terhadap perusahaan Anda! Banyak orang akhirnya menempelkan perasaan benci mereka terhadap bos mereka ke perasaan mereka terhadap perusahaan. Fatal! Mereka akhirnya membenci segala sesuatunya tentang perusahaan tersebut. Belajarlah untuk memisahkan antara keduanya, sehingga Anda tetap punya motivasi untuk datang ke kantor!

Kedua, setelah sadar bahwa perasaan Anda tidak perlu sama terhadap bos dan perusahaan, apabila Anda membenci bos Anda, Anda masih tetap bisa mencintai perusahaan Anda! Infact, mencintai perusahaan – termasuk di dalamya: merek dagang, produk, pelanggan, sesama rekan, manager lain, atau bahkan pemilik, adalah solusi terkuat bagi Anda untuk bisa tetap survive dan efektif! Apabila Anda belum pernah memikirkan ini, cobalah hari ini, sekarang! Anda akan merasakan perbedaannya dalam hitungan detik!

Ketiga, ingatlah bahwa Anda bekerja untuk perusahaan, bukan untuk bos Anda! Anda menyelesaikan pekerjaan melalui bos Anda, tapi Anda tidak berkarya untuknya saja, Anda berkarya dan berkontribusi untuk seluruh anggota perusahaan Anda – dari pelanggan, karyawan, sampai pemilik perusahaan Anda! Jadi kali berikut Anda merasa bahwa dunia sudah berakhir setelah menerima sebuah perlakuan yang dalam takaran Anda sudah tidak bisa diterima lagi, ingatlah bahwa Anda tidak sedang menerima perlakuan dari seluruh perusahaan.

Keempat, pisahkan perilaku bos Anda dengan pandangan Anda terhadap dia sebagai pribadi. Apa yang dia lakukan dan katakan kepada Anda tidak harus melambangkan dia sebagai pribadi dan niat dia terhadap Anda. Seringkali kita tidak bermaksud mengatakan atau melakukan sesuatu, tapi karena disalahpersepsikan, kita malah akhirnya benar-benar menunjukkan seperti yang dipersepsikan! Saya yakin Anda pernah berada di situasi itu.

Kelima, ingat bahwa dalam situasi menilai seseorang yang sudah punya cap buruk di hati dan pikiran kita, kita cenderung untuk meng-generalisasi! Akhirnya kita menyamaratakan apapun yang dilakukannya sebagai buruk. Mantapkan hati dan positifkan pikiran, dan pertimbangkan perlakuannya secara kasus per kasus. Ingat, bukan dia-nya tapi kasusnya dan perilakunya secara khusus pada kasus tersebut! Dan apabila terjadi sebuah kasus, tidak harus berhubungan dengan yang sudah pernah terjadi. Hindari perkataan seperti: “Ah, emang dia begitu!”, atau “Ini pasti ada hubungannya dengan kemarin dia…..”, atau “Tuh, khan dulu juga pernah terjadi begini, gua udah tahu niatnya nggak baik!”, atau sejenisnya.

Keenam, apabila Anda merasa bahwa gangguan ini sudah melewati batas dan Anda tidak bisa lagi efektif dalam bekerja, adakan tatap muka dan komunikasikan! Sampaikan concern Anda, kesulitan Anda, dan usulan solusi Anda. Sampaikan dalam bingkai ‘saya’. Contohnya “Saya merasakan kesulitan untuk bekerja sama dengan Ibu/Bapak”, bukannya “Ibu/Bapak mambuat saya sulit untuk bekerja sama dengan Ibu/Bapak”. Dan ingat selalu untuk menyampaikan kalimat “Saya ingin membuat hubungan ini efektif, walau sadar saya punya pandangan dan cara kerja yang berbeda dengan Ibu/Bapak”

Ketujuh, apabila dengan tatap muka tetap belum berhasil, ajak deal! Saya pernah mengalami hal ini dengan seorang bos yang sulit, dan berhasil dengan baik setelah saya ajak deal. Tipsnya adalah duduk bersama dia, dan sepakati apa yang dia harapkan dari Anda dan Anda harapkan dari dia. Setelah mendapatkan list tersebut, sampaikan bahwa Anda ingin melakukan deal dengan dia! Anda akan deliver semua yang diharapkannya, dengan beberapa harapan Anda, agar Anda bisa efektif. Lalu utarakan harapan Anda. Dalam kasus saya, waktu itu saya usulkan agar dia ‘leave me alone’ saat bekerja, karena dia seorang ‘control freak’ yang selalu mencek detil pekerjaan kapan pun sehingga malah mengganggu. Ingat, buat tertulis dan Anda berdua tandatangani. Apabila perlu (hanya sebagai jalan terakhir apabila kasusnya sudah parah, libatkan atasan dia, atau pihak HRD sebagai penengah dan ikut menandatangani).

Kalau memang sudah mencoba semua, dan Anda masih tetap tidak bisa nyaman, maka pertimbangkan untuk look for another job. Ingat, sahabatku, Anda yang memilih!


Aksi

Information

One response

14 05 2012
nita

Eh, bos q jg rese. Sneng banget nyari kslahan org. Udh gitu sneng banget dia permaluin q mentang2 q anak baru. N parahnya kalo dia salah, gak pernah mau ngakuin. Gak mau mundur. Berharap dia kecelakaan, biar bisa bebas smentara waktu. Kalo mati lebih bagus. Benci bgt sampe k ubun2. Dibawa tidur gak enak, kerja gak nyaman. Pingin keluar tapi males cari kerja lagi. Huh. Huh. Huh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: