Kompetisi Telekomunikasi; Interkoneksi & Kapasitas Koneksi

22 07 2008

….tut..maaf nomor tujuan anda belum terpasang (biasanya masih beberapa nomor aja yang ditekan), …atau maaf nomor tujuan anda sedang sibuk,….atau bahkan cuma tut..tut..tut.. kemudian koneksi terputus.

Beberapa hari yang lalu ada seorang pelanggan operator seluler yang beberapa hari ini yang mengeluh karena kesulitan menghubungi atau menghubungi operator pelanggan lain. Kebetulan beliau sedang mencoba layanan operator baru yang baru saja launching di kota kecilnya.

Mungkin anda pernah juga mengalami hal yang sama, sperti kondisi rekan kita diatas. Kompetisi telekomunikasi yang kian hari semakin sengit, perang harga bahkan luar biasanya ada yang berani gratiskan Hp juga. Menurut buku om tung desem, tidak hanya berbeda namun luar biasa berbedalah yang dibutuhkan untuk memenangkan kompetisi ini.

Operator baru dengan segudang senjata dengan peluru siap tembak, seakan menjadi ancaman operator besar. Bahkan ada yang sudah memprediksi operator akan mengadakan ‘konsolidasi” hingga jumlahnya tinggal 3-5 operator dari 11 operator yang ada. Operator besar yang telah mempunyai pelanggan bejibun, mungkin gerakannya tidak selincah operator baru yang ikut meramaikan “persilatan” telekomunikasi, sehingga posisi bertahan dengan embel-embel ‘ menjaga kualitas layanan” di pakai sarana untuk membela diri.

Operator telekomunikasi yang sangat agresif, yang membantu pemerintah (dan juga operator besar) untuk memeratakan pemenuhan kebutuhan telekomunikasi harus berhadapan dengan ‘ kasus interkoneksi” yang beberapa tahun lalu sempat mendera teknologi CDMA yang dikembangkan operator nomor 2 indonesia yang sahamnya telah di beli operator arab pertengahan 2008 ini. Lalu apakah interkoneksi ini juga mendera operator yang ikut meramaikan bursa telekomunikasi sekarang ini ? Atau apakah strategi ini digunakan untuk menghambat pertumbuhan operator baru?

Secara aturan umum pemerintah “interkoneksi” sebenarnya sudah tidak menjadi masalah lagi, namun belum ada jaminan apakah aturan itu telah dilaksanakan dengan baik, untuk menjaga kompetisi secara fair. Contoh kasus diatas bisa jadi salah satu kejadian masalah interkoneksi yang belum dibuka secara luas oleh operator besar, tentu ini perlu membuktikannya namun setidaknya sebagai pelanggan operator tidak dirugikan kalau memang itu harus terjadi, terutama dikota-kota kecil yang jauh dari pantauan pemerintah atau BRTI misalnya.

Nah, kita sebagai pelanggan mungkin bisa menanyakan ke masing-masing operator atau menelpon ke layanan bebas pulsa untuk melaporkan informasi seperti ini (tentu harapannya sementara saja, tidak berulangkali harus lapor). Operator kecil cenderung lemah untuk merubah kebijakan itu, namun dengan peran masyarakat tentu akan lebih cepat menyelesaikannya jangan sampai seperti kisah “kartel SMS’ yang menunggu sekian tahun baru terungkap dan masyarakat telah dirugikan.

Salam Hebat !!
Jul2008





Resensi Buku: Marketing Revolution by Tung Desem Waringin

15 07 2008

Merevolusi Sistem, Mendongkrak Motivasi

Judul Buku: Marketing Revolution
Pengarang: Tung Desem Waringin
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 320
Penulis Resensi: Tuhu Nugraha Dewanto

Buku ini berhasil menyedot perhatian dan menjadi perbincangan banyak orang. Penulisnya, Tung Desem Waringin, memang menciptakan efek word of mouth dengan cara yang sensasional yaitu menyebar uang senilai seratus juta rupiah dari atas helikopter untuk menandai peluncurannya. Lalu, bagaimana dengan isi bukunya sendiri? Apakah sesensasional kampanye promosinya?

Buku ini memang sangat memotivasi pembacanya. Terutama bagi Anda yang menggeluti bidang penjualan (baca: salesman) dan kaum pebisnis, buku ini memberikan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuat produk Anda laku di pasar dan dicari konsumen. Pendekatan yang dilakukan memang sebagian besar didominasi gaya hardselling, walaupun Tung juga memberikan beberapa tips bagaimana menarik perhatian media dan memperoleh publikasi gratis.

Lalu, apa relevansinya bagi Anda para praktisi HR untuk membaca buku ini? Ada beberapa catatan penting dari buku ini yang mungkin sangat berguna bagi para praktisi HR. Pertama, Tung Desem Waringin adalah seorang motivator yang hebat. Cara dia menulis buku ini membuat orang yang membacanya jadi termotivasi dan semakin bersemangat.

Kedua, kalau diperhatikan dengan seksama beberapa bagian dari buku ini sengaja diulang, untuk membuat pesan yang ingin disampaikan mengena dan menancap di dalam otak. Ketiga, bahasa yang digunakan adalah bahasa percakapan sehari-hari. Ini memudahkan pembaca untuk mengerti inti pesan yang ingin disampaikan. Hal-hal tersebut tentunya sangat penting bagi para praktisi HR untuk mampu berkomunikasi terutama secara tertulis dengan baik, sesuai lingkup peran dalam mengelola dan memotivasi karyawan.

Keempat, Tung dalam bukunya ini selalu menekankan pentingnya sistem bagi perusahaan, yang harus selaras dengan tujuan individual masing-masing karyawan. Pada dasarnya setiap manusia itu egois, sehingga keberadaan sebuah sistem harus bisa menjawab pertanyaan, “Apa yang akan saya dapatkan bila melakukan sesuatu?” Dalam bahasa yang keren ini disebut sebagai Management Control System.

Di samping hal-hal yang telah diuraikan di atas, buku ini relevan untuk dibaca orang HR karena Tung memberikan banyak contoh konkret bagaimana menerapkan sistem insentif bagi karyawan yang pada gilirannya akan menguntungkan perusahaan. Dengan sebuah sistem yang “win win solution”, maka tanpa harus diawasi pun para salesman akan bekerja sangat produktif karena itu menyangkut kepentingan pribadi mereka juga.

From PortalHR.com

Juli 2008





HELP! I Hate My Boss!!!

4 07 2008

Oleh: Hingdranata Nikolay

Apakah Anda membenci boss Anda? Apakah anda tidak sabar lagi untuk melihat dan merasakan saat dimana mereka pergi dari perusahaan (atau kalau mau blak-blakan, mati)?

Apapun perasaan kita, saat kita memilih untuk menetap dengan semua kelebihan (itupun kalau menurut persepsi kita ada) atau kekurangan perusahaan yang ada, maka satu-satunya jalan untuk bisa bertahan adalah belajar dan meningkatkan kemampuan untuk merespon dengan efektif. Perhatikan bahwa keputusan memilih ada di tangan kita!

Sebuah hasil riset mengatakan bahwa 80% karyawan meninggalkan perusahaan karena ketidakcocokan mereka dengan bosnya. Apakah Anda termasuk daftar antri untuk pergi atau diminta pergi dari perusahaan?

Sebenarnya keadaan tidak bisa lebih buruk dari apa yang Anda sudah lihat, alami, dan rasakan, apabila Anda memang mulai belajar untuk memikirkan kembali situasinya. Apabila Anda sudah berhenti sejenak untuk memikirkan apa yang terjadi dan bagaimana Anda akan merespon terhadap yang Anda alami ini, maka sebenarnya segala sesuatunya bisa segera berubah menjadi lebih baik.

Coba ikuti tip berikut dari I2.

Pertama, perasaan Anda terhadap bos Anda tidak sama dengan perasaan Anda terhadap perusahaan Anda! Banyak orang akhirnya menempelkan perasaan benci mereka terhadap bos mereka ke perasaan mereka terhadap perusahaan. Fatal! Mereka akhirnya membenci segala sesuatunya tentang perusahaan tersebut. Belajarlah untuk memisahkan antara keduanya, sehingga Anda tetap punya motivasi untuk datang ke kantor!

Kedua, setelah sadar bahwa perasaan Anda tidak perlu sama terhadap bos dan perusahaan, apabila Anda membenci bos Anda, Anda masih tetap bisa mencintai perusahaan Anda! Infact, mencintai perusahaan – termasuk di dalamya: merek dagang, produk, pelanggan, sesama rekan, manager lain, atau bahkan pemilik, adalah solusi terkuat bagi Anda untuk bisa tetap survive dan efektif! Apabila Anda belum pernah memikirkan ini, cobalah hari ini, sekarang! Anda akan merasakan perbedaannya dalam hitungan detik!

Ketiga, ingatlah bahwa Anda bekerja untuk perusahaan, bukan untuk bos Anda! Anda menyelesaikan pekerjaan melalui bos Anda, tapi Anda tidak berkarya untuknya saja, Anda berkarya dan berkontribusi untuk seluruh anggota perusahaan Anda – dari pelanggan, karyawan, sampai pemilik perusahaan Anda! Jadi kali berikut Anda merasa bahwa dunia sudah berakhir setelah menerima sebuah perlakuan yang dalam takaran Anda sudah tidak bisa diterima lagi, ingatlah bahwa Anda tidak sedang menerima perlakuan dari seluruh perusahaan.

Keempat, pisahkan perilaku bos Anda dengan pandangan Anda terhadap dia sebagai pribadi. Apa yang dia lakukan dan katakan kepada Anda tidak harus melambangkan dia sebagai pribadi dan niat dia terhadap Anda. Seringkali kita tidak bermaksud mengatakan atau melakukan sesuatu, tapi karena disalahpersepsikan, kita malah akhirnya benar-benar menunjukkan seperti yang dipersepsikan! Saya yakin Anda pernah berada di situasi itu.

Kelima, ingat bahwa dalam situasi menilai seseorang yang sudah punya cap buruk di hati dan pikiran kita, kita cenderung untuk meng-generalisasi! Akhirnya kita menyamaratakan apapun yang dilakukannya sebagai buruk. Mantapkan hati dan positifkan pikiran, dan pertimbangkan perlakuannya secara kasus per kasus. Ingat, bukan dia-nya tapi kasusnya dan perilakunya secara khusus pada kasus tersebut! Dan apabila terjadi sebuah kasus, tidak harus berhubungan dengan yang sudah pernah terjadi. Hindari perkataan seperti: “Ah, emang dia begitu!”, atau “Ini pasti ada hubungannya dengan kemarin dia…..”, atau “Tuh, khan dulu juga pernah terjadi begini, gua udah tahu niatnya nggak baik!”, atau sejenisnya.

Keenam, apabila Anda merasa bahwa gangguan ini sudah melewati batas dan Anda tidak bisa lagi efektif dalam bekerja, adakan tatap muka dan komunikasikan! Sampaikan concern Anda, kesulitan Anda, dan usulan solusi Anda. Sampaikan dalam bingkai ‘saya’. Contohnya “Saya merasakan kesulitan untuk bekerja sama dengan Ibu/Bapak”, bukannya “Ibu/Bapak mambuat saya sulit untuk bekerja sama dengan Ibu/Bapak”. Dan ingat selalu untuk menyampaikan kalimat “Saya ingin membuat hubungan ini efektif, walau sadar saya punya pandangan dan cara kerja yang berbeda dengan Ibu/Bapak”

Ketujuh, apabila dengan tatap muka tetap belum berhasil, ajak deal! Saya pernah mengalami hal ini dengan seorang bos yang sulit, dan berhasil dengan baik setelah saya ajak deal. Tipsnya adalah duduk bersama dia, dan sepakati apa yang dia harapkan dari Anda dan Anda harapkan dari dia. Setelah mendapatkan list tersebut, sampaikan bahwa Anda ingin melakukan deal dengan dia! Anda akan deliver semua yang diharapkannya, dengan beberapa harapan Anda, agar Anda bisa efektif. Lalu utarakan harapan Anda. Dalam kasus saya, waktu itu saya usulkan agar dia ‘leave me alone’ saat bekerja, karena dia seorang ‘control freak’ yang selalu mencek detil pekerjaan kapan pun sehingga malah mengganggu. Ingat, buat tertulis dan Anda berdua tandatangani. Apabila perlu (hanya sebagai jalan terakhir apabila kasusnya sudah parah, libatkan atasan dia, atau pihak HRD sebagai penengah dan ikut menandatangani).

Kalau memang sudah mencoba semua, dan Anda masih tetap tidak bisa nyaman, maka pertimbangkan untuk look for another job. Ingat, sahabatku, Anda yang memilih!





Dari Network Marketing ke Property

4 07 2008

Network marketing atau MLM sebagai bagian dari salah satu teknik penjualan mutakhir mendapat apresiasi bagus ditahun 2008 ini, tidak kurang dari 10 pelaku pasar yang berkecimpung dipenjualan yang menerapkan metode ini untuk mendongkrak penjualannya.

Kiat-kiat yang sangat luar biasa tersebut, mendorong banyak orang bersedia untuk mendatangi event “motivasi” yang diaadakan sebuah perusahaan network marketing (MLM). Tidak jarang posisi mereka adalah posisi yang sangat strategis diperusahaannya, semisal Sales Manager, Sales Spv, Manager Operasional bahkan direktur atau owner perusahaan.

Sikap Negatif terhadap MLM, banyak media baik secara online ataupun offline yang terkadang memberitakan informasinya kurang mendapatkan informasi yang lengkap tentang perusaahaan MLM. Bahkan di media online, yang sangat bebas, terkesan mau menstigma bahwa MLM itu jelek, cenderung menipu, perusahaan bohong-bohongan dan sebagainya. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri, karena memang terkadang kita juga akan menemukan “oknum” nakal atau “perusahaan” fiktif yang benar-benar menipu masyarakat kita.

Memilih Network Marketing, APLI yang merupakan lembaga resmi pemerintah mungkin bisa menjadi pilihan pertama untuk mendapatkan informasi lengkap tentang Network Marketing tersebut. Kedua, visi perusahaan yang diterapkan dalam aplikasi dilapangan, berupa kesungguhan perusahaan untuk membesarkan bisnisnya, semacam Stokis, Support System, atau produk yang terjaga kualitasnya. Jangan mudah terkecoh dengan iming-iming menjadi orang pertama. Untuk informasi yang lain untuk memilih MLM kunjungi web berikut.

Fakta, mungkin sebagian dari kita tidak percaya bila seorang ’networker” istilah yang biasanya para pelaku MLM menyebut dirinya. Penghasilan puluhan juta atau bahkan lebih, Reward mobil/villa gratis merupakan fakta yang tak tersanggahkan. Terlebih lagi fakta tentang pengembangan kepribadian, Entrepenuer strategi, selling skill, leadership yang biasanya kita dapatkan hanya dalam trainning mahal. Bisnis ini benar-benar menjadi salah satu media yang sangat tepat untuk memulai bekerja dikuadran kanan, seperti yang dianjurkan pakar-pakar investasi.

Sukses itu ada harganya, salah satu pelajaran yang diajarkan dibisnis ini. Dengan metode yang telah dilakukan oleh leader-leader dan kesungguhan hati serta disiplin tinggi merupakan kunci keberhasilan bisnis ini, seperti yang disampaikan seorang leader dalam home meeting beberapa hari yang lalu. Bicara tentang sukses, pasti sekian % dari populasi pelaku bisnis MLM, namun hal ini juga berlaku dalam bisnis yang lain. Terlebih dengan resiko yang relatif kecil, maka usaha yang dilakukan harus lebih kuat dari usaha yang lain. Jadi bisnis ini layak untuk anda perhitungkan.

Bisnis Properti, beberapa orang yang sudah berhasil dibisnis MLM menambah investasinya dengan melakukan investasi dibidang properti. Langkah yang sangat tepat, karena kalau kita melihat para investor yang sekarang menjadi ikon pada awalnya juga memulai dari investasi properti. Banyak buku yang mengajarkan cara-cara berinvestasi di bidang ini, patut menjadi referensi.

Membeli properti itu untung saat membeli bukan saat menjual, demikian beberapa pernyataan investor top saat memulai bisnisnya. Melakukan investasi di property memiliki keunggulan kalau kita mampu mengubahnya menjadi aset, bukan lialibiltas seperti yang diajarkan Robert T kyosaki. Bahkan kalau kita lihat fenomena sekarang ini perusahaan ”makelar” tanah telah bersaing secara ketat semisal Era property, DW property, Jawa Property dan masih banyak lagi. Keberadaan mereka tentu akan sangat bermanfaat bagi kita untuk mendapatkan informasi tentang property yang mau kita beli.

Property atau Mobil, banyak pelaku MLM terkadang memilih mobil sebagai bagian dari peningkatan status ”leader” yang berhasil selain sebagai mobil kerja operasional. Keunggulan properti dibanding mobil tentu lebih banyak, karena mobil akan mengalami penyusutan harga sedang property sebaliknya.

Salam Hebat !!
Juli 2008








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.