Politik Marketing; Menjual, Menjual, Menjual

30 04 2008

Bagi sebagian orang politik mungkin bersebrangan dengan marketing, namun dalam diera keterbukaan yang sedemikian bebas. Media apapun bisa dijadikan lahan untuk “pamer” (untuk; menyebut kata:menjual) bahkan tak luput tiang listrik pun menjadi area untuk memajang jagoannya.

Dunia politik di prediksi akan sangat menarik, dengan diberlakukannya kebijakan baru tentang calon independent boleh maju tanpa lewat partai politik. Dan disinilah mungkin akan dimulai “Politik Marketing” yang sesungguhnya.

Marketing sementara ini cuma dimaknai untuk memasarkan produk sebuah industri, namun ini akan berlanjut juga di bidang politik. Ambil contoh pemilihan presiden di tahun 2004, sebuah partai kecil yang kurang diperhitungkan mampu menjadi pemenang pemilihan presiden. Tentu kejadian ini tak lepas dari skenario marketing yang handal, target setting, pembagian area (mapping isue), brand image dan prinsip-prinsip marketing yang lain.

Target Setting, seperti layaknya menjual sebuah produk. Target “menjual” disesuaikan dengan marketnya, kalau dengan anak muda dipakailah musisi muda seperti Slank di Team Pak Amin (walaupun tidak secara langsung), Jamrud di Pak SBY, bahkan public figure pun banyak dipakai untuk “menjual” mencapai target.

Dan di 2008 ini akhirnya banyak mereka2 akhirnya mencalonkan menjadi menteri, bupati, gubernur atau wakil gubernur dan sebagian menjadi pemenangnya. Daya “menjual” artis yang biasanya dipakai untuk memasarkan produk pabrikan ternyata effektif untuk benar-benar menjual, terlepas siapa yang memakainya.

Mapping, di bidang penjualan ini diperlukan untuk menyusun strategi penjualan. Pendekatan spiritual dipakai untuk kelompok keagamaan, pendekatan kedaerahan untuk mensetting sifat kedaerahan, sehingga menjelang pemilu pasti akan banyak bermunculan elemen2 yang terang mendukung calon tertentu.

Brand Image, ini mungkin yang paling gencar dan paling dekat dengan point marketing, anda mungkin bisa perhatikan pencitraan calon akan didapatkan mulai dari yang paling sederhana pamflet, flyer, koran, media bahkan web/media online. Iklan TV akan wira-wiri memajang calon tertentu, dan bisnis promosi memang benar2 naik beratus2 lipat, mulai produksi kaos, cetak brosur, stiker bahkan yang mutakhir mobile branding (mobil siapapun bisa di branding dengan konsep sewa seperti layaknya iklan produk)

Tahun 2009 tinggal beberapa bulan lagi, roda politik segera akan meluncur. Media Promosi, Iklan/advertaising, Agency yang selama ini menggarap produk industri akan segera mendapat tantangan baru untuk mencapai target mengegolkan “menjual” kliennya. Seperti layaknya promosi untuk mencapai target penjualan, mereka berlomba-lomba membuat iklan “yang baik” tentang calon. Dan untuk istilah “Sales Force” calon tentu akan membentuk “kader” yang bertugas seperti layaknya sales force untuk memasarkan produk.
Anda Tertarik untuk menjadi Agency Politik Marketing ?

Selamat Datang “Politik Marketing Indonesia”
Salam Hebat !!





PENOLAKAN; Karena Menganggu Zona Kenyamanan

19 04 2008

…Mohon maaf ya mas, kebetulan saat ini mau ngurusi masuk sekolah anak dulu….atau yang normatife..OK, terima kasih atas penjelasannya nanti mungkin kalau sudah ada yang berminat akan menghubungi..inikan nomornya mas (sambil seperti seolah-olah memperhatikan/mencatat nomer HP kita)…..

Seorang salesman hebat dimanapun pasti pernah mengalami hal tersebut diatas. Dan tidak sedikit yang kemudian salesman yang mengalami kejadian itu harus membanting haluan untuk meneruskan profesi sales mereka. Dan bahkan dalam setiap kesempatan interview mereka kalau boleh memilih selalu berharap bukan melamar untuk menjadi salesman, sayangnya mereka tidak bias memilih.

Penolakan, mungkin sebenarnya musuh terberat seorang salesman. Seorang salesman yang dalam 3 hari aja tidak mendapatkan order, karena seringnya penolakan pasti akan menjadi kurang termotivasi dan akhirnya terserang penyakit “muntaber” (sedikit meminjam istilah yang dipakai bisnis MLM) alias Mundur Tanpa Berita.

Penolakan, masih akan sering terjadi namun setidaknya kita harus belajar untuk tidak mengulang kejadian yang sama. Beberapa hal yang melatar belakangi kenapa mereka menolak penawaran kita:

Kurang Informasi, Bisa saja informasi yang kita jelaskan belum menyentuh apa yang mereka inginkan. Banyak kejadian pada presentasi awal, salesman memaksa untuk closing namun tidak memperhatikan banyak hal yang mereka inginkan. Presentasi awal adalah jalan untuk menemukan follow up berikutnya, apalagi kalau produk yang kita tawarkan adalah produk yang bersifat spesifik.

Terganggu Zona Kenyamanannya, seorang yang sudah mindet banget dengar produk yang selama ini dia pakai, tentu akan cenderung mempertahankan (memuji) produk yang dia pakai. Semakin kita menekan untuk membeli produk kita, bisa-bisa kita akan diajak main taruhan tentang kualitas produk dengan emosional.

Seseorang yang sudah sangat loyal sebagai pemakai salah satu produk competitor tentu diperlukan strategi khusus untuk menarik minat mereka. Terlebih produk kita adalah produk baru yang baru launching, diperlukan banyak data pendukung dan waktu yang relatife lebih untuk memberikan informasi yang sangat lengkap.

Namun kita harus tetap optimis dan tetap melakukan improvisasi dalam melakukan pendekatan, terkadang ikut naik, standar, atau turun sedikit untuk kemudian membuat manuver ( kayak mau perang aja ya…). Pasti deh mereka masih bisa kok berubah arah setelah mendapat penjelasan kita (tentunya dengan follow up, diskusi dengan antusias).

Salam Hebat !!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.